Open top menu
Sabtu, 17 Januari 2015
Monolog Tiga Generasi

 TIGA monologer beda generasi tampil dalam rangkaian kegiatan gelar Pameran Seni Rupa Geliat Pesisir yang dihelat Komite Seni Rupa Dewan Kesenian Kota Tegal (DKT). Kegiatan dimaksud dilangsungkan di halaman gedung DPRD Kota Tegal, 13 Desember 2014. Dengan dekorasi dan lighting minimalis tiga monologer yakni, Ida Fitri, Abidin Abror dan Eko Tunas, tampil memukau dan mampu menghipnotis seluruh pengunjung yang hadir malam itu. Monologer termuda Ida Fitri membawakan lakon "Inggit". Sedangkan monologer Abidin Abror memainkan cerita bertajuk "Perangkap Tikus". Adapun Eko Tunas membawakan cerita berjudul "Sang Pemburu". (Adi Mulyadi)

Ida Fitri






 Eko Tunas







Abidin Abror







Read more
Warga Desak Pemekaran Desa Karangdawa

Warga Desa Karangdawa, Kecamatan Margasari, mendatangi Komisi 1 DPRD Kabupaten Tegal untuk mengusulkan pemekaran desa setempat.

Sejumlah warga Desa Karangdawa, Kecamatan Margasari ramai-ramai mendatangi Komisi 1 DPRD Kabupaten Tegal. Mereka mendesak untuk adanya pemekaran di Desa Karangdawa yang berpenduduk sekitar 16 ribu jiwa.

"Sesuai aturan, tahapan pemekaran sudah kami lalui," kata Sekretaris Panitia Pemekaran Desa Karangdawa, Agus Santoso, saat mendatangi Komisi 1, Senin (12/1).

Tahapan pertama, Agus menyebutkan, dengan melakukan musyawarah desa (musdes) yang melibatkan lembaga desa, Badan Permusyawaratan Desa (BPD), pemerintah desa, dan tokoh masyarakat. Semula, musdes itu dilaksanakan pada 2013 silam. Namun, usulan pemekaran itu ditolak pemerintah daerah karena ada surat edaran dari Menteri Dalam Negeri mengingat pada tahun itu pemerintah akan melaksanakan Pilkada, Pileg, dan Pilpres.

"Tahapan pertama, kami mengacu pada UU Nomor 6 Tahun 2014 tentang pembentukan perdesaan," ujarnya.

Untuk syarat lainnya, lanjut Agus, di wilayah Desa Karangdawa memiliki fasilitas umum yang memadahi. Selain berpenduduk sebanyak 16 ribu jiwa, desanya juga memiliki tanah bengkok seluas 16 hektar, 8 masjid, 4 sekolahan, 1 puskesmas, 1 klinik umum, 4 orang bidan, 2 lapangan sepakbola dan 5 pedukuhan. Pedukuhan itu meliputi Pedukuhan Limbangan, Apu, Kedawung, Karangasem, dan Sawo. Rencananya, 5 pedukuhan itu akan dibagi dua. Untuk desa pertama (Desa Karangdawa) meliputi Pedukuhan Limbangan, Kedawung, dan Apu. Sedangkan desa yang baru meliputi Pedukuhan Karangasem, dan Sawo.

"Masyarakat di 5 pedukuhan itu, sudah setuju semua," ujarnya.

Sementara itu, Ketua Komisi 1 DPRD Kabupaten Tegal, Munif, mengaku sangat setuju dengan pemekaran desa tersebut. Namun demikian, pihaknya meminta tahapan dan syarat pemekaran desa supaya dipenuhi. Saat ini, syarat yang sudah dipenuhi selain fasilitas umum adalah musdes yang mengacu pada UU Nomor 6 tahun 2014. "Sebenarnya ada 10 tahapan yang harus dipenuhi," terangnya.

Munif mengemukakan, syarat pemekaran desa yakni pihak desa harus mengusulkan surat permohonan pembentukan desa baru ke Pemkab. Kemudian dari Pemkab membentuk tim dengan melibatkan Bagian Pemerintahan, Bagian Hukum, Bapermades, Bappeda, Camat dan Akamedisi. Tim lalu memverifikasi usulan tersebut dengan mendatangi desa yang dimaksud. Apabila hasil evaluasi itu disepakati, maka Bupati menetapkan Peraturan Bupati (Perbup) tentang desa persiapan.

"Setelah itu, diusulkan ke Gubernur dengan mendasari Perbup. Kemudian Gubernur menerbitkan kode register desa persiapan," paparnya.

Sebelum desa itu dibentuk, sambung Munif, Bupati harus mengangkat pejabat perangkat desa untuk desa persiapan. Kemudian pemerintah daerah menyusun rancangan Perda tentang desa persiapan tersebut menjadi desa seutuhnya. Menurut Munif, perjalanan proses pemekaran itu, membutuhkan waktu cukup lama.

"Kalau melihat prosesnya, mungkin sekitar 4 tahun. Sebab, desa persiapan maksimal 3 tahun," pungkasnya. (yerry novel)
Read more
Sebanyak 29 Raperda Ditetapkan

Ketua DPRD Kabupaten Tegal A Firdaus Assyairozi didampingi Wakil Ketua DPRD KRT Sugono, dan Sekda Tegal Haron Bagas Prakosa menandatangani penetapan 23 raperda yang akan dibahas dalam persidangan tahun 2015.

Sedikitnya 29 Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) ditetapkan DPRD dalam Rapat Paripurna di Gedung DPRD setempat, Senin (12/1). Raperda itu, nantinya akan dibahas dalam masa persidangan tahun 2015.

Ketua Badan Pembentukan Peraturan Daerah DPRD Kabupaten Tegal, Akhmad Sayuti, mengatakan, dari jumlah tersebut, sebanyak 23 Raperda merupakan usulan eksekutif, dan 6 Raperda usulan dari legislatif. Menurut dia, pembahasan pembentukan Raperda dilakukan melalui rapat pada 19 Desember 2014 dan 7 Januari 2014.

"Rapat kami lakukan dengan pimpinan DPRD, pimpinan Komisi dan Bagian Hukum Setda Kabupaten Tegal," kata Ahmad Sayuti, saat ditemui usai Rapat Paripurna.

Hasil pembahasan tersebut, lanjut Sayuti, ada 23 Raperda yang diusulkan Pemkab Tegal, diantaranya Raperda Desa, Raperda Perubahan Atas Perda Nomor 3 Tahun 2010 tentang Penyelenggaraan Administrasi Kependudukan, Raperda Pengelolaan Barang Milik Daerah, Raperda Perubahan Atas Perda Nomor 4 Tahun 2014 tentang Penataan Pasar Tradisional, Pusat Perbelanjaan dan Pasar Modern, dan Raperda Perubahan Atas Perda Nomor 1 Tahun 2007 tentang Pengendalian Menara Telekomunikasi.

“DPRD juga mengusulkan 6 Raperda atau Raperda Inisiatif,” sambungnya.

Dia menjelaskan, 6 Raperda itu yakni Raperda Kompetensi Jabatan, Raperda Kedudukan Keuangan Pimpinan dan Anggota DPRD, Raperda Perlindungan Hewan Pemangsa Hama Pertanian, Raperda Pengelolaan Sampah, Raperda Pendidikan Agama dan Raperda Badan Layanan Umum Daerah (BLUD).

“Untuk menghasilkan perda yang baik dan efektif, Program Pembentukan Peraturan Daerah dilakukan dengan penelitian yang komprehensif dan mendalam,” ujar Sayuti.

Selain itu, tambah dia, membuka kesempatan publik untuk berpartisipasi secara intens dalam proses pembentukan perda. Masukan dari masyarakat dinilai sangat penting agar aspirasi bisa tertampung dalam raperda tersebut. Hal itu dikarenakan ada beberapa raperda yang berkaitan langsung dengan masyarakat.

“Kami berharap dukungan masyarakat untuk ikut berperan serta dalam pembahasan raperda ini,” pungkasnya. (yerry novel)
Read more
Peringatan Setahun Meninggalnya Ki Slamet Gundono

Sejumlah seniman menghadiri acara setahun meninggalnya Ki Slamet Gundono yang dikemas dengan Festival Hujan, di Desa Dukuh Salam, Kecamatan Slawi.

Festival Hujan Dipolitisir

SEJUMLAH seniman dari berbagai kota/kabupaten di pulau Jawa dan luar pulau Jawa memperingati setahun meninggalnya dalang kondang, Ki Slamet Gundono selama sepekan. Kegiatan yang dimulai sejak 5 Januari hingga 11 Januari itu, dilaksanakan di rumah duka Desa Dukuhsalam Kecamatan Slawi. Para seniman yang hadir dan menampilkan berbagai potensinya secara sukarela itu, justru mendapat kabar tidak sedap di lingkungan masyarakat Kabupaten Tegal. Mereka diisukan, kegiatan itu merupakan ajang refleksi kepemimpinan Bupati Tegal selama setahun.

"Itu tidak benar, itu hanya oknum saja yang tidak suka dengan kegiatan kami ini," kata Ketua Penyelenggara, Honggo Cahyo Utomo, saat dikonfirmasi ihwal isu tersebut, Sabtu (10/1) malam.

Honggo tak menampik, pihaknya sempat mendengar isu tersebut. Dia mengaku terkejut karena Festival Hujan yang direncanakan sejak lama itu, justru mendapat gunjingan dari oknum yang tidak bertanggungjawab. Padahal menurut Honggo, acara tersebut murni kegiatan para seniman yang peduli dengan dalang suket yang meninggal dunia pada awal Januari 2014 silam itu. "Ini pyur kegiatan para seniman. Anggarannya juga swadaya. Pemerintah daerah sama sekali tidak membantu," cetusnya.

Ketua Dewan Kesenian Kabupaten Tegal (DKKT) Soleh, yang hadir dalam kegiatan itu juga mengaku hal senada. Menurut dia, acara yang dikemas dengan melibatkan masyarakat Desa Dukuhsalam ini, sama sekali tidak ada hubungannya dengan kegiatan refleksi kepemimpinan Bupati selama setahun. "Panitia Festival Hujan dengan Panitia Refleksi orangnya beda. Jadi tidak ada hubungannya sama sekali," tegasnya.

Kepala Desa Dukuh Salam, Dedi Hastomo menambahkan, kegiatan Festival Hujan itu memang sudah direncanakan para seniman sudah lama. Bahkan, untuk meramaikan acara itu, pihaknya menggandeng warganya untuk berpartisipasi. Semisal, para seniman yang datang dari luar kota, disarankan untuk menginap di rumah warganya. "Ada beberapa rumah warga yang digunakan untuk menginap para seniman. Dan untuk biaya konsumsi, warga membantu ala kadarnya," terangnya.

Sementara itu, Bupati Tegal Enthus Susmono yang juga hadir dalam penutupan acara Festival Hujan itu menyatakan bahwa isu tersebut tidak benar. Menurut dia, kegiatan itu murni dari para seniman. "Tolong, kegiatan ini jangan dipolitisir," ucapnya.

Dalam kesempatan itu, Bupati juga sempat menyantuni anak-anak Ki Slamet Gundono dengan sejumlah uang tunai. Dia mengaku prihatin melihat anak dalang suket itu yang kini menjadi anak yatim.

"Bagi para seniman, jangan sampai melupakan anak-anaknya (Ki Slamet Gundono). Mereka juga butuh masa depan," ujarnya.

Adapun, seniman yang hadir dalam acara Festival Hujan antara lain, Ki Manteb Soedharsono (Solo), Dwi Priyo (Solo), Suiwtri penari topeng Endhel (Tegal), Tambari Gustam (Tegal), Dhe-Dhe Perscussion (Solo), Endah Laras (Solo), Hugo Tillman (Inggris), Megan O Donoghoe Wiliam (USA), Mas Inung (Jakarta), Wisnu HP (Ponorogo), Dwi Windarti (Solo), Joko Alang-alang (Solo), Atmo Tan Sidik (Tegal), Bojong Musik Akustik (Tegal), Teather Kardus (Tegal), Teater A (Tegal), dan beberapa seniman lainnya. (yerry novel)
Read more
Minggu, 11 Januari 2015
Duka Keluarga Korban Kapal Oryong 501

Bupati Tegal Enthus Susmono mencium anak Warno (korban meninggal) sementara Titin (istri Warno) tak kuasa menahan tangis tangisnya, sesaat sebelum jenazah Warno tiba dirumah duka.
Jenazah Warno tiba di Desa Gumayun, Kecamatan Dukuhwaru, Kabupaten Tegal.

Istri dan keluarga Warno menangis histeris ketika melihat jenazah Warno tiba.

Warga membawa foto dan menggotong peti jenazah Warno menuju ke rumah duka.

Bupati Tegal Enthus Susmono penuh keharuan menyambut kedatangan jenazah Warno.

Warga dan sanak keluarga membantu menenangkan Titin, istri Warno yang menangis histeris dan akhirnya pingsan lantaran tidak kuasa menahan kesedihannya.
Korban selamat tragedi kapal Oryong 501, Wanto ,35, warga Bandungsari, Banjarharjo, Brebes memberikan keterangan kepada awak media. Wanto menceritakan upayanya sehingga bisa selamat saat kapal Oryong 501 tenggelam.

Duka Selimuti Keluarga Korban Tenggelamnya Kapal Oryong 501


Enam jenazah Anak Buah Kapal (ABK) Oryong 501 asal Kabupaten Tegal dan Kabupaten Pemalang dipulangkan ke kediaman dan keluarga masing-masing, Jumat. 9 Januari 2015. Keenam jenazah yang dipulangkan antara lain Warno (37), warga Desa Gumayun, Kecamatan Dukuhwaru, Kabupaten Tegal.

Kemudian Nur Kholis (23), warga Desa Gumayun, Kecamatan Dukuhwaru, Kabupaten Tegal. Muhammad Idris (35), warga Desa Suradadi, Kecamatan Suradadi, Kabupaten Tegal. Mujahidin (29), warga Desa Kalisapu, Kecamatan Slawi, Kabupaten Tegal. Barjo (31), warga Desa Limbangan, Kecamatan Ulujami, Kabupaten Pemalang, dan Harjono.

Jenazah salah satu ABK, Warno, tiba dari Jakarta di rumah duka di RT 18 RW 6 Desa Gumayun sekitar pukul 16.00 WIB. Jenazah kemudian langsung dibawa ke mushola Al-Ikhlas yang berada tak jauh rumah duka untuk disholati. Selain keluarga dan tetangga korban, Bupati Tegal Enthus Susmono juga terlihat mendatangi rumah duka untuk menyambut jenazah. Usia disholati, jenazah langsung dimakamkan di pemakaman umum desa setempat.

Istri korban, Titin Ariani (32), tak kuasa menahan tangis duka begitu suara sirine mobil ambulans terdengar. Bahkan ibu dua anak itu langsung jatuh pingsan meski belum sempat melihat peti jenazah yang membungkus suaminya. Sejumlah keluarga korban yang lain juga tak henti menangisi kedatangan jenazah korban.

Pejabat Fungsional Diplomat Direktorat Perlindungan Warga Negara Indonesia dan Badan Hukum Indonesia Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) Hernawan B Abid mengatakan, terdapat 6 ABK asal Jawa Tengah yang diserahkan ke keluarganya masing-masing bersama 7 ABK asal daerah lain. "Dari Kabupaten Tegal ada 5 orang, satunya lagi dari Pemalang," kata Hernawan  usai menyerahkan jenazah Warno ke keluarga, kemarin.

Terdapat 15 ABK Kapal Oryong 501 yang berasal dari Kabupaten Tegal, Brebes, dan Pemalang. Dari jumlah itu, selain enam ABK yang sudah dipulangkan jenazahnya, terdapat satu ABK yang sudah dipastikan ditemukan dalam kondisi selamat yakni Wanto, warga Desa Karangmalang, Kecamatan Songgom, Kabupaten Brebes.

Saat disinggung nasib 8 ABK asal wilayah pantura lainnya, Hernawan belum dapat memastikannya karena masih menunggu informasi dari perwakilan pemerintah Indonesia di Korea Selatan. Dia hanya mengungkapkan adanya 3 jenazah ABK Kapal Oryong yang akan diterbangkan dari Korea Selatan. Namun dia mengaku belum mengantongi identitas ketiga ABK tersebut. "Kemungkinan nanti malam baru sampai di Jakarta," ujarnya.

Lebih lanjut Hernawan memastikan hak-hak para ABK yang jenazahnya dipulangkan tersebut sudah diberikan ke keluarga masing-masing. "Hak-hak untuk ABK yang jenazahnya belum ditemukan juga sudah diberikan ke keluarganya," ujarnya.

Istri Warno, Titin membenarkan sudah menerima hak-hak suaminya baik dari perusahaan penyalur, PT Koindo Maritim maupun pemilik kapal, Sajo Industries. Besaran asuransi dari perusahaan penyalur Rp 150 juta, sedangkan dari perusahaan pemilik kapal sebesar 15 USS Dolar. Selain itu Titin juga menerima santunan kematian dari Badan Pelayanan Penempatan Tenaga Kerja Indonesia (BP3TKI) Jawa Tengah sebesar Rp 5 juta. "Diberikan seminggu setelah mendapat kabar dari perusahaan. Semuanya sudah clear," kata dia.

Seperti diketahui, kapal penangkap ikan Oryong 501 tenggelam di Laut Bering, Rusia pada 2 Desember 2014 lainnya. Dari  60 awak kapal asal Korea Selatan tersebut, 35 orang di antaranya merupakan Warga Negara Indonesia (WNI). Dari 35 ABK asal Indonesia itu, 10 dari Tegal, 4 dari Brebes, dan 1 dari Pemalang. [Foto dan Artikel: Almahzumi]

Read more
Selasa, 06 Januari 2015
Jalur Pantura Kota Tegal Dipasangi Rambu Asmaul Husna

Pemerintah Kota (Pemkot) Tegal memasang 99 unit rambu bertuliskan Asmaul Husna di median jalan Jalur Pantura Kaligangsa hingga Pesurungan Kidul. Pemasangan rambu tersebut dimaksudkan supaya pengguna jalan yang beragama Islam melintas di Kota Tegal dapat mengingat Tuhannya dan terus berdzikir selama perjalanan. (Adi Mulyadi)

Read more
Minggu, 04 Januari 2015
Dinilai Ilegal, Basecamp PT BRD Disegel

Jajaran Satpol PP memasang Satpol Line pada mesin pembuat bahan cor di basecamp PT Bumirejo (BRD) di Jalan Mataram, Kota Tegal, Jawa Tengah, 17 November 2014. Pemerintah Kota (Pemkot) Tegal memasang Satpol Line lantaran sudah sekitar setahun ini BRD beraktivitas secara ilegal karena tidak mengantongi izin penggunaan lahan. (Adi Mulyadi)

Read more
Dinilai Ilegal, Basecamp PT BRD Disegel

Jajaran Satpol PP memasang Satpol Line pada mesin pembuat bahan cor di basecamp PT Bumirejo (BRD) di Jalan Mataram, Kota Tegal, Jawa Tengah, 17 November 2014. Pemerintah Kota (Pemkot) Tegal memasang Satpol Line lantaran sudah sekitar setahun ini BRD beraktivitas secara ilegal karena tidak mengantongi izin penggunaan lahan. (Adi Mulyadi)

Read more
Sabtu, 03 Januari 2015
Anang Hermansyah Gigit Jari

Angota DPR RI Anang Hermansyah menggigit jari kelingkingnya saat menjadi tamu dalam kegiatan Dialog Rakyat di Pendopo Ki Gede Sebayu Balai Kota Tegal, Jawa Tengah, Minggu, 7 Desember 2014. Dialog Rakyat digelar anggota Komisi X DPR RI Teguh Juwarno untuk menyerap aspirasi masyarakat di Dapilnya. (Adi Mulyadi)

Read more
Inilah Kemeriahan Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Kota Tegal 2015





SEKELUMIT SEJARAH PAWAI ROLASA


Menurut Pembina Yayasan Syiarul Islam Panggung, Kota Tegal Kol (Pur) H Nur Kaukab bin KH Muchlas, dulu Pawai Rolasan dikenal dengan sebutan Pawai Oncor. "Karena semua peserta membawa oncor atau obor dari bambu," katanya.

Ada makna dibalik itu semua. Nyala api oncor melambangkan semangat perjuangan para syuhada kemerdekaan bangsa. Dimana hanya dengan semangat jihad dan bersenjatakan bambu runcing dapat mengusir penjajah dari bumi tercinta Indonesia.

Sedangkan derap langkah yang sama dengan oncor di tiap barisan, mencerminkan semangat persatuan dan kesatuan untuk bersama bersyukur. Dengan cara memantapkan tekad mempertahankan semangat perjuangan syuhada anak bangsa.

Disebutkan, inisiator penyelenggaraan kegiatan tersebut, adalah almarhum KH Muchlas (1886-1964). KH Muchlas dikenal masyarakat Tegal sebagai ulama besar sekaligus pejuang. Dia yang menciptakan pondok tidak hanya sebagai tempat menggali ilmu agama, tapi juga penggemblengan semangat berjuang melawan penjajah.

Santriwan dan santriwati yang belajar di pondok tidak hanya datang dari daerah Tegal dan sekitar saja. Tetapi juga dari luar daerah. Banyak santri yang datang untuk menggali ilmu kanuragan sebagai bekal memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.

Gemblengan ilmu lewat madrasah dan zikir di Masjid Panggung, serta olah kanuragan di lapangan kuburan Panggung dan Alun-alun Kota Tegal. "Salah satu komandannya adalah H Abdul Jalil."

Sesudah menyelesaikan pendidikan, para santri dilepas melalui pemantapan semangat berjuang dengan pemberian doa. Tidak hanya itu santri juga diberi segenggam nasi putih sebagai modal awal melaksanakan tugas perjuangan. Doa Bismillah bi’aunillah dan seterusnya yang disampaikan oleh Kiai Muchlas sebagai doa perpisahan selalu dijawab oleh para santri dengan pekik Allahu akbar la haula wa laa quwwata illa billah.

Aktivitas itu saat Clash Belanda II dipantau dan dilaporkan oleh para intel penjajah. Informasi tempat dan posisi Pesantren Panggung diberitahukan oleh mereka. Sehingga dengan tepat Belanda bisa membombardir pondok lewat kapal perang yang merapat di Pelabuhan Tegal.

"Untung hanya terjadi kerusakan kecil di pondok. Upaya Belanda lewat pemboman tidak menurunkan semangat juang para santri, bahkan semakin banyak pejuang yang datang untuk menimba ilmu," sambungnya.

Belanda pun berusaha membunuh para ulama di Tegal, utamanya KH Muchlas beserta keluarga. Tapi itu tidak kesampaian, karena KH Muchlas dan keluarga sudah meninggalkan Kota Tegal menuju Kediri.

Berkat informasi dari seorang santri, KH Muchlas mampu menghindar dari kejaran Belanda dan menyelesaikan perjalanan kepindahannya. "Beliau pergi dengan berjalan kaki, naik kereta api dan kendaraan," beber Kaukab.

Sampai Pondok Pesantren Lirboyo Kediri, KH Muchlas disambut adik iparnya, KH Machrus Aly, yang juga pendiri dan pengasuh Ponpes Lirboyo. Di Kediri, KH Muchlas terus melanjutkan perjuangan melawan Belanda.

Setelah kembali ke Tegal, KH Muchlas melanjutkan pembinaan Ponpes Panggung dan mendirikan Yayasan Syiarul Islam. Sebagai rasa syukur atas kemerdekaan RI dari hasil perjuangan para santri yang tak ubahnya saat Nabi Muhammad SAW berjuang mensyiarkan Islam.

Maka, bertepatan dengan memperingati kelahiran Nabi pada setiap bulan Maulid diadakan Pawai Oncor. "Tradisi ini disamping bertujuan mengingat perjuangan Nabi sekaligus membina semangat juang generasi muda. Motivasi awalnya adalah untuk mengingat perjuangan Nabi, menyukuri kemerdekaan, serta menjaga persatuan bangsa dan ukhuwah Islamiyah," pungkasnya. (adi mulyadi)


Read more